Sosoknya sekarang menjadi buah bibir masyarakat. Mudah saja dikenal karena terdapat kaitan dengan Tim Nasional (Timnas) U23. Siapa dia? Coach RD, sebutan akrab untuk Pelatih yang di percaya menangani Timnas U23 pada SEA Games ke 26 kali ini, Rahmad Darmawan. Wajahnya Indonesia sekali! Ya, pertama kali terpikirkan saat melihatnya secara langsung. Sangat terasa, darah bangga ini mengalir…
Sore itu, Minggu 20 November banyak sekali teman-teman media yang ingin mengetahui persiapan H-1 Final Sea Games Indonesia vs Malaysia, mereka semua setia menunggu di lokasi tempat latihan ringan di kolam renang hotel The Sultan. Sekitar pukul 15.30, pintu lift rombongan timnas bersama beberapa pelatih terbuka dan segera menuju lokasi latihan.
Sebelum latihan dimulai, para pemain dan pelatih di perbolehkan untuk di wawancarai media. Kira-kira tiga puluh menit waktu wawancara dan sesi foto bareng itu dilakukan.
Om RD, nama panggilan saya untuknya meminta saya untuk menunggu sampai latihan yang kira-kira empat puluh lima menit itu selesai. “Kamu tunggu sebentar ya sampai latihannya selesai. Nanti abis itu kita ngobrol-ngobrol. Oke?” katanya ramah.
Menjadi diri sendiri
Ramah, pembawaannya tenang namun tetap tegas, baik, dan sopan. Satu demi satu jawaban tiap pemburu berita Ia jawabnya dengan mantap. Saat latihan sesekali bercanda dengan para pemain pun juga di lakukannya. Hmm, mungkin ini sebuah strategi nya agar anak asuhnya dapat rileks untuk menghadapi pertandingan final Senin, 21 November 2011.
Pelatih hitam manis ini bisa jadi seorang yang sama dengan kita dalam hal mewujudkan cita-cita. Mengapa? Ya. Ia memiliki cerita masa kecil yang tidak begitu saja di mudahkan jalannya untuk nyemplung di dunia per-sepak bolaan seperti sekarang ini. “Saya dulu berliku-liku mbak untuk sampai saat ini” katanya mencurahkan hati. Orang-orang yang di sebut memiliki pengaruh terbesar yaitu Nenek dan kedua orang tuanya pernah melarang dirinya untuk menggeluti dunia sepak bola. Siapa sangka RD kecil juga tidak begitu menyukai sepakbola? awalnya Ia lebih menyukai buku tangkis. Alih-alih berganti, dan mulai duduk di tingkat SMP Ia malah memilih dan mulai serius terhadap dunia per-sepak bolaan.
RD kecil sering di marahi neneknya karena untuk dapat latihan sepak bola membuatnya pernah bolos mengaji. Waktu itu Ia masih kelas 4 SD, kecintaan RD kecil mengajarinya agar berani mengambil keputusan. Ya, Ia tetap pada jalannya. Tetap ikut latihan bola.
Siapa sangka? Kiprah RD yang pernah menjadi tim inti timnas tahun 1986 ini berawal secara perlahan bakatnya tercium oleh kalangan tetangga. Waktu itu kedua orang tua RD adalah orang kesehatan yang membuka praktek di rumah, orang-orang yang berobat ke rumah sering kali menceritakan bakatnya yang memukau itu.
Diam-diam orang tua dan nenek RD kecil memperhatikan tingkah nya. Ternyata benar, keseriusannya dapat di pertanggung jawabkan olehnya. Sejak itu awal SMP, RD kecil baru di berikan kepercayaan. Di mulai Ia di belikan sepatu bola oleh kedua orang tua nya. Sampai melanjutkan studi ke sekolah kesehatan dan olah raga, di UNJ. Untuk mengasah bakat nya sebagai pelatih, tak ragu Coach RD menuntut ilmu sampai ke luar negri. Sejak itu pihak keluarga akhirnya mendukung dirinya dan dukungan tersebut tidak pernah surut, selalu baru setiap hari.
RD kecil banyak belajar dari pengalamannya dan menyadari pentingnya dukungan dari keluarga. Saat ini Ia sudah memiliki 2 anak dan tidak pernah memaksa untuk meniru jejak karir ayahnya. Ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih dan yang terpenting, pilihan anak-anaknya dapat di pertanggung jawabkan.
Kritik tetap berdatangan
Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Pribahasa yang pantas di arahkan kepadanya. Sebagai salah satu pelatih berdarah dingin yang memiliki jam terbang tinggi, sering kali di kritik gaya nya apalagi dengan emosi yang tidak begitu kentara di lapangan.
Menurutnya, pelatih yang ekspresif menampilkan emosi di lapangan tentang senang dan kesal hingga mengeluarkan kata kasar itu tidak dapat di persalahkan juga, Pelatih seperti itu terbiasa dengan caranya dan anak-anak yang asuhnya pun pasti juga terbiasa dengan pelatih seperti itu. Dan ketika di tanya bagaimana dengan dirinya?
"Saya berusaha menjadi diri saya. Ya, saya ya saya. Saya tidak dapat di paksa menjadi orang lain. Apa pun kata orang lain, saya enjoy saja. Tetap menjadi diri sendiri." katanya mantap dan masih ramah. “Sukses ya untuk om dan Timnas” kata saya menutup ngobrol-ngobrol sore itu, “Ya. Terimakasih, kamu juga sukses sama studi kamu ya.” Jawabnya dengan senyum manisnya.
Wah, wajah Indonesia nya masih memukau dan mengingatkan kita dengan lagu anak-anak Indonesia negri ku orang nya ramah-ramah, macam-macam budayanya… Sukses om coach!
Menurutnya, pelatih yang ekspresif menampilkan emosi di lapangan tentang senang dan kesal hingga mengeluarkan kata kasar itu tidak dapat di persalahkan juga, Pelatih seperti itu terbiasa dengan caranya dan anak-anak yang asuhnya pun pasti juga terbiasa dengan pelatih seperti itu. Dan ketika di tanya bagaimana dengan dirinya?
"Saya berusaha menjadi diri saya. Ya, saya ya saya. Saya tidak dapat di paksa menjadi orang lain. Apa pun kata orang lain, saya enjoy saja. Tetap menjadi diri sendiri." katanya mantap dan masih ramah. “Sukses ya untuk om dan Timnas” kata saya menutup ngobrol-ngobrol sore itu, “Ya. Terimakasih, kamu juga sukses sama studi kamu ya.” Jawabnya dengan senyum manisnya.
Wah, wajah Indonesia nya masih memukau dan mengingatkan kita dengan lagu anak-anak Indonesia negri ku orang nya ramah-ramah, macam-macam budayanya… Sukses om coach!
![]() |



Komentar
wooo gaya :P
ciyee kan reporter wanna be.
interview gue dong >///<
hahha
gutlak deh buat pinah pricil